Bedah Saraf, Ini Yang Harus Anda Ketahui

Bedah Saraf, Ini Yang Harus Anda Ketahui

Bedah saraf tumor untuk mengatasi penyakit yang dikarenakan tumor atau kanker pada organ saraf, seperti glioma, meningioma, neuroma akustik, tumor pineal, tumor hipofisis, serta tumor di basic tulang tengkorak.
Bedah saraf vaskular untuk mengatasi stroke, aneurisma otak, dan
Bedah saraf fungsional untuk mengatasi nyeri tulang belakang, trigeminal neuralgia, penyakit carpal tunnel syndrome, epilepsi, serta kedutan muka (hemifacial spasm) toko herbal online

Bedah saraf traumatik untuk mengatasi perdarahan otak, hematoma subdural, hematoma epidural, serta patah tulang belakang.
Bedah saraf pediatrik bisa mengatasi penyakit saraf pada bayi serta anak-anak, seperti hidrosefalus, tumor otak pada anak, spina bifida, cranial dysraphism, serta kraniosinostosis.
Bedah saraf spinal bisa mengatasi tumor saraf tulang belakang, spondilitis tuberkulosis, serta kelainan bentuk tulang belakang (umpamanya skoliosis, lordosis, atau kifosis).
Peringatan serta Komplikasi Bedah Saraf
Bedah saraf berisiko menyebabkan komplikasi yang bisa berlangsung ketika operasi ataupun sesudah operasi.

Komplikasi yang bisa keluar pada pasien yang melakukan prosedur neuroendoskopi, diantaranya yaitu :

Perdarahan.
Infeksi.
Munculnya saluran abnormal (fistula) pada otak.
Kelainan Saraf.
Matinya jaringan
Epilepsi.
Masalah penyusunan hormon karena rusaknya hipotalamus.
Aneurisma otak.
Bradikardia.
Hipertensi.
Untuk pasien yang menjalan bedah saraf yang dipadukan dengan radioterapi, seperti stereotactic radiosurgery (SRS), bisa alami komplikasi berbentuk :

Terasa lemas serta capek, terlebih sekian hari sesudah melakukan SRS.
Kulit kepala jadi kemerahan.
Rambut rontok.
Pembengkakan di lokasi penyembuhan tumor.
Mual.
Muntah.
Peradangan otak.
Pasien yang melakukan kraniotomi bisa alami komplikasi, seperti :

Terjadinya gumpalan darah.
Kejang.
Pembengkakan pada otak.
Otot melemah.
Kelumpuhan.
Masalah pergerakan serta keseimbangan badan.
Pasien yang melakukan awake brain surgery bisa alami komplikasi, seperti :

Kehilangan ingatan.
Masalah koordinasi anggota tubuh.
Masalah keseimbangan.
Stroke.
Meningitis.
Masalah pandangan.
Kejang.
Kesusahan bicara serta belajar.
Otot merasa lemah.
Pasien yang melakukan pemasangan VP shunt bisa alami komplikasi, seperti :

Penyumbatan saluran buatan (shunt).
Keringnya carian otak karna terbuang sangat banyak lewat shunt.
Infeksi.
Kekeliruan tempat shunt.
Putusnya shunt dari lokasi pemasangan.
Perdarahan.
Kejang.
Persiapan Bedah Saraf
Pada intinya, setiap tehnik bedah saraf mempunyai persiapan yang tidak sama bergantung type aksi yang dikerjakan. Namun, pada umumnya dokter juga akan mengecek keadaan kesehatan pasien, penyakit beda yang terkena (terlebih penyakit kritis seperti diabetes serta penyakit jantung koroner), dan alergi yang dipunyai. Pasien juga diwajibkan untuk puasa sebelumnya melakukan prosedur bedah saraf, paling tidak 6 jam sebelumnya proses bedah saraf. Puasa yang dikerjakan pasien mempunyai tujuan untuk menghindar masuknya isi lambung ke saluran pernafasan. Pasien bedah saraf yang alami penambahan desakan dalam otak serta muntah-muntah peluang juga akan alami dehidrasi sepanjang operasi. Oleh karenanya, pasien dengan keadaan itu mesti diberi konsumsi cairan lewat infus sebelumnya proses operasi.

Dokter akan lakukan kontrol sebelumnya bedah saraf dikerjakan. Kontrol dikerjakan dengan cara pencitraan lewat CT scan serta MRI. Pencitraan bisa memberi info tentang keadaan sisi dalam otak serta organ saraf yang lain dengan visual berkaitan ada jaringan abnormal, pengapuran, perdarahan, abses, kista, atau tumor.

Segi persiapan perlu yang lain yaitu penentuan obat bius (anestesi) untuk dipakai sepanjang operasi. Anestesi yang pas bisa menolong dokter melakukan bedah saraf dengan maksimum, meminimalisir komplikasi yang bisa keluar, dan melindungi keadaan pasien tetaplah stabil sepanjang operasi. Anestesi yang didapatkan bisa berbentuk anestesi umum (bius keseluruhan), regional, atau lokal. Terkecuali berperan untuk menahan rasa sakit sepanjang operasi, anestesi dapat juga merelaksasi otot pasien dan menghimpit refleks saraf sepanjang operasi.

Pasien mesti memberitahu pada dokter bila mempunyai alergi pada anestesi, obat-obatan spesifik, serta zat yang lain (umpamanya lateks). Bila pasien tengah konsumsi obat pengencer darah atau mempunyai masalah pembekuan darah, katakan pada dokter untuk hindari komplikasi. Pasien yang mempunyai rutinitas merokok juga akan disuruh untuk berhenti merokok sekian hari sebelumnya proses operasi. Pasien yang juga akan melakukan kraniotomi atau AWS juga akan disuruh untuk keramas memakai shampo antiseptik, serta rambut kepala juga akan dicukur. Jauhi memakai kosmetik serta perhiasan sebelumnya melakukan operasi bedah saraf, terlebih pada kepala. Pasien mesti melepas gigi palsu, lensa kontak, kaca mata, rambut palsu (wig), serta kuku palsu sebelumnya melakukan bedah saraf.

Prosedur Proses Bedah Saraf
Pasien yang telah siap melakukan prosedur bedah saraf juga akan dibawa ke ruangan operasi serta disuruh untuk ganti bajunya dengan baju spesial operasi. Pasien lalu diposisikan sesuai sama tehnik bedah saraf yang juga akan ditempuh, baik itu duduk maupun terlentang. Dokter juga akan memosisikan pasien dengan baik serta senyaman mungkin saja supaya tidak muncul komplikasi karena tempat pasien yang salah sepanjang operasi jalan.

Kemudian dokter juga akan memberi obat bius pada pasien. Pasien yang telah diberi obat bius keseluruhan juga akan dipasang selang pertolongan pernafasan yang disambungkan ke mesin pernafasan. Sepanjang operasi, pasien juga akan diawasi keadaannya lewat pemantauan desakan darah, denyut jantung, serta suhu badan.

Umumnya cara bedah saraf membutuhkan pembuatan irisan kulit atau insisi, terkecuali prosedur stereotactic radiosurgery (SRS). Insisi juga akan di buat di daerah yang juga akan dibedah. Misalnya pada kraniotomi serta AWS, insisi juga akan di buat di daerah kepala serta dibarengi dengan pembukaan tulang tengkorak. Daerah tulang tengkorak yang di buka sesuai dengan kepentingan aksi medis yang telah dievaluasi sebelumnya operasi.

Bila pasien juga akan melakukan bedah mikro saraf pinggir, insisi juga akan di buat di daerah anggota tubuh yang alami masalah saraf pinggir. Bila pasien menanggung derita kelainan saraf sensorik atau motorik di tangan, jadi insisi juga akan di buat di tangan, demikian halnya bila kelainan saraf berlangsung di kaki. Walau demikian, keadaan pasien juga merubah kapan bedah mikro saraf pinggir bisa dikerjakan. Bila keadaan kesehatan pasien cukup baik, bedah mikro saraf pinggir bisa dikerjakan dengan selekasnya. Demikian sebaliknya, bila keadaan kesehatan pasien cukup jelek atau ada luka serta cedera kronis pada anggota tubuh yang juga akan melakukan bedah mikro, pasien juga akan dinanti higga keadaannya sembuh terlebih dulu.

Pasien yang melakukan neuroendoskopi juga akan dibuatkan insisi dibagian dalam hidung dibarengi dengan pemotongan beberapa kecil tulang sekitaran hidung. Insisi ini di buat dengan maksud untuk memasukkan alat endoskop dari dalam hidung menuju otak.

Pasien yang melakukan pemasangan VP shunt untuk menangani hidrosefalus serta penambahan desakan dalam otak juga akan dibuatkan insisi dibagian belakang telinga. Kateter juga akan dipasang dari kepala lantas disambungkan ke rongga perut. Kateter juga akan menolong turunkan penimbunan cairan otak dengan mengalirkan cairan itu dari kepala menuju ke rongga perut.

Prosedur bedah saraf lalu juga akan dikerjakan sesudah insisi usai di buat. Bila pasien menanggung derita tumor pada otak atau saraf tulang belakang, tumor juga akan diangkat. Pasien yang melakukan bedah mikro saraf pinggir juga akan melakukan perbaikan saraf motorik atau sensorik di anggota tubuh yang alami cedera saraf. Pasien yang melakukan kraniotomi serta AWS juga akan melakukan beragam aksi medis di bagian otak. Pasien yang melakukan neuroendoskopi juga akan melakukan pengangkatan tumor serta aksi medis beda di bagian dalam otak.

Spesial pasien yang melakukan aksi bedah saraf stereotactic radiosurgery atau SRS, insisi akan tidak di buat sekalipun. Pasien juga akan diposisikan kemampuanng di mesin SRS, lalu dimasukkan kedalam ruangan mesin. Didalam mesin ada alat spesial yang juga akan dipasangkan ke kepala serta juga akan pancarkan radiasi kedalam otak. Radiasi ini berbentuk cahaya gamma yang juga akan difokuskan pada tumor didalam otak, serta memotong dan menghancurkan tumor itu tanpa ada mengakibatkan kerusakan jaringan otak yang lain. Sepanjang prosedur SRS, pasien juga akan tetaplah sadar namun diberi obat penenang sepanjang prosedur berjalan.

Pasien yang melakukan AWS juga akan diberi beragam pertanyaan oleh dokter untuk meyakinkan bedah saraf dikerjakan pada daerah yang pas serta tidak mengakibatkan kerusakan daerah otak yang lain. Pertanyaan-pertanyaan yang didapatkan termasuk simpel, yakni sekitar kata serta gambar. Pasien akan disuruh untuk menggerakkan anggota badan atau menggerakkan jari sepanjang prosedur AWS. Bila semua prosedur bedah telah usai dikerjakan, insisi yang di buat juga akan ditutup kembali.

Sesudah Bedah Saraf
Pasien yang telah melakukan prosedur bedah saraf juga akan selekasnya dirawat untuk melakukan pemulihan saat operasi. Masa pemulihan pasien yang telah melakukan bedah saraf sangat perlu, terlebih untuk hindari komplikasi serta kematian pasien. Pada sebagian masalah, buruknya hasil bedah saraf malah disebabkan masa pemulihan saat operasi yg tidak digerakkan dengan baik.

Aksi bedah saraf biasanya adalah operasi besar, hingga pasien juga akan melakukan pemulihan dirumah sakit terlebih dulu sebelumnya diijinkan untuk pulang. Pasien bisa melakukan pemulihan di ruangan ICU, namun sebagian pasien bisa melakukan pemulihan di ruangan rawat inap umum. Lamanya saat pemulihan yang ditempuh oleh pasien tidak sama, bergantung prosedur bedah saraf yang ditempuh serta anestesi yang didapatkan.

Pasien yang melakukan prosedur bedah otak, seperti kraniotomi atau AWS, juga akan diposisikan dengan kepala lebih tinggi di banding anggota tubuh yang beda sesudah operasi. Maksudnya yaitu untuk menghindar penimbunan cairan serta aliran darah dibagian kepala, serta hindari pembengkakan pada kepala serta muka. Untuk menghindar pembengkakan otak, dokter bisa memberi obat, seperti propofol atau phenobarbital. Sepanjang masa pemulihan, pasien akan diawasi desakan dalam otak dengan intensif untuk hindari ada resikonya yg tidak dikehendaki.

Pasien kraniotomi serta AWS juga akan dirawat dengan intensif dengan dikerjakan pemantauan pada :

Desakan darah.
Kandungan oksigen dalam darah.
Denyut jantung.
Laju pernafasan.
Suhu badan.
EEG.
Kandungan elektrolit serta cairan badan.
Pasien yang melakukan pemulihan dari kraniotomi juga akan dicek peranan otaknya sesudah melakukan operasi. Dokter juga akan mengecek :

Pergerakan mata serta pupil, lewat penyinaran senter ke mata.
Pergerakan tangan serta kaki.
Kemampuan tangan serta kaki.
Tujuan pasien, dengan bertanya sebagian pertanyaan simpel, seperti nama, tanggal, serta tempat pasien ada.
Sepanjang masa awal pemulihan saat operasi, pasien kraniotomi tetaplah juga akan dipasangkan alat pertolongan pernafasan. Untuk memfasilitasi buang air kecil, pasien juga akan dipasangi kateter pada saluran kencingnya. Pasien akan dilatih untuk bernapas sesudah alat bantu pernafasan dilepaskan. Latihan pernafasan ini berperan untuk menolong pasien memakai paru-parunya kembali, dan menghindar pneumonia.

Terkecuali pasien kraniotomi, pasien yang melakukan bedah saraf tulang belakang, terlebih bedah saraf leher (servikal), juga akan dipasangi alat bantu pernafasan dalam awal pemulihan saat operasi.

Pasien yang melakukan prosedur SRS bisa alami resikonya, seperti sakit kepala, mual, serta muntah-muntah. Dokter juga akan memberi obat untuk memperingan resikonya itu sepanjang masa pemulihan. Pasien yang melakukan neuroendoskopi dapat juga rasakan resikonya yang sama, dibarengi dengan penyumbatan pada hidung. Dokter juga akan memberi obat-obatan untuk meredakan resikonya sepanjang pasien melakukan masa pemulihan. Dokter akan memonitor kandungan hormon untuk ketahui kemampuan kelenjar hipofisis pada otak. Bila dari pemantauan di ketahui kalau kelenjar hipofisis tidak bekerja hasilkan hormon dengan baik, jadi pasien juga akan melakukan terapi pergantian hormon.

Antibiotik juga akan diberi pada pasien yang melakukan bedah saraf, baik sebelumnya ataupun setelah operasi. Pemberian antibiotik mempunyai tujuan untuk :

Menghindar pneumonia.
Menghindar timbulnya kembali abses otak, sesudah dikerjakan bedah saraf untuk mengatasi abses.
Menghindar meningitis, terlebih meningitis yang disebabkan oleh bocornya cairan otak.
Menghindar infeksi pada pasien hidrosefalus yang melakukan pemasangan VP shunt.
Terkecuali diberi antibiotik, pasien dapat juga diberi obat pengencer darah untuk menghindar terjadinya gumpalan darah, terkecuali bila pasien mempunyai masalah pembekuan darah. Untuk menghindar kejang pada pasien bedah saraf otak, dokter bisa memberi obat antikonvulsan jadi usaha mencegah kejang.

Sesudah usai melakukan pemulihan dirumah sakit, pasien umumnya dibolehkan untuk pulang ke tempat tinggal serta melakukan rawat jalan. Lamanya saat perawatan dirumah sakit tergantung pada seberapa kronis tingkat keparahan penyakit saraf yang terkena serta type prosedur bedah saraf yang ditempuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *